Cari artikel berdasarkan kategori:

10 Maret 2010

Syirik samar, syirik di sekitar kita.

Pada suatu perjalanan sepulang berta’ziah, ada seseorang yang menyalakan televisi dan menyetel sebuah cd. Ternyata itu adalah cd anak-anak islami yang bercerita tentang tumbuhan (sebenarnya kami ya males merhatikan, tapi ya… sedang bosen ).Sekilas program yang ada di dalamnya cukup baik. Tokohnya lucu, isinya berilmu dan mengandung cukup humor. Dan juga penuh dengan kata-kata seprti “Subhanallah”, “Astaghfirullah”, dan lain-lain. Pokoknya sudah jelas lah, orang yang membuatnya berniat baik dan berusaha memajukan Islam.

Lalu dalam cerita itu deciratakan bahwa kedua tokohnya (cerita itu adalah fabel, jadi kedua tokohnya yang merupakan hewan bisa bicara. Selain itu ada tumbuhan yang juga bisa bicara) bertemu dengan sekuntum bunga yang kehausan dan meminta sedikit air. Akhirnya mereka memberinya air dan bunga itu segar kembali. Di sini ditunjukan kebiasaan berbagi kepada sesama yang baik. Lalu bunga itu berterimakasih dan berkata: “wah, Jazakumullah ya. Berkat kalian, aku bisa segar kambali”.

Di situ, kami langsung dapat menyadari, barusan bunga itu telah melakukan syirik samar. Apakah syirik samar itu? Contoh yang mudah diberikan adalah perkataan seperti “kalau tidak ada kamu, aku pasti…”, “berkat kamu, sekarang aku…”. Bagaimana hal itu bisa syirik? Karena itu berarti menyamakan kedudukan seseorang dengan kedudukan Allah.

Di cerita di atas, bunga itu berkata “berkat kalian, aku bisa segar kembali”. Padahal, bila Allah tidak menghendaki bunga itu jadi segar, maka apabila seluruh orang di bumi ini memberikan air kepada bunga itu, bunga itu tidak akan segar. Segala susatu itu terjadi dan berlaku karena kehendak Allah.

Di kehidupan sehari-haripun kita masih sering manjumpai syirik samar. Contoh: “wah, berkat obat ini, aku sembuh”, atau “wah, kalau tidak ada kamu, aku pasti celaka”, atau sejenisnya. Syirik samar ini masih sering dilakukan, bahkan oleh orang islam sendiri. Memang, kita harus selalu ingat dan berhati-hati dalam menjaga lisan kita. Bahkan, diriwayatkan bahwa nabi menggambarkan syirik samar sama samarnya dengan “semut hitam yang merayap di atas batu pada malam yang gelap.”

Kita memang harus selalu menjaga lisan kita.

1 komentar:

Tazkia Fatimah mengatakan...

wah, subhanalloh, bagus itu..
menkritisi sebuah realita dg berdasar pada agama..
MANTABS JAYA LAH!!!!

keep on posting yaaw?
hehehe :D

Free Lamp MySpace Cursors at www.totallyfreecursors.com